66 Tahun Sudah Merdekakah?

Oleh : Drs. Husni Thamrin, M.Si, Ketua LPP UIN Suska Riau

         

Sudah 66 tahun yang lalu kita telah menyatakan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat yang menganut sistem demokrasi, menggantikan Daulat Tuanku kepada Daulat Rakyat. Namun, apakah selama 66 tahun kemerdekaan tersebut rakyat kita benar-benar bedaulat dalam bingkai demokrasi? Bagaimana hubungan kemerdekaan tersebut dengan pelaksanaan demokrasi kita?
Tentang demokrasi di Indonesia pernah disentil oleh Proklamator kita Muhammad Hatta mengingatkan kita tentang anomali demokrasi. Di tangan orang yang terlalu ultra-demokratis, demokrasi bisa menjadi kuda liar yang kehilangan kekangnya.
Fenomena yang dikemukakan Hatta tersebuat tidak jauh dari realitas yang terjadi setelahnya. Di era pemerintahan Soeharto yang katanya menganut Demokrasi Pancasila yang semu, yang sesungguhnya terjadi adalah otoritarian militeristik.
Demokrasi sipil dibungkam, meliteristik pemerintahan bayangan, pembangunan dan kekuasaan sentralistik, ketidakadilan daerah terjadi. Konsekuensi ini menimbulkan gejolak daerah seperti tuntutan Aceh Merdeka, Papua Merdeka, Riau Merdeka dan beberapa gejolak dan konflik laten daerah yang lain yang menuntut keadilan.
Di era pasca kejatuhan Soeharto, yang kononnya disebut Orde Reformasi, demokrasi itu lebih membabi-buta lagi, korupsi, kolusi dan nepotisme semakin merajala-lela.
Lihat saja misalnya dalam penyelenggarakan pemilihan presiden, legistatif, DPD dan kepala daerah. Orang-orang yang menginginkan kursi jabatan menghalalkan segala cara dengan melakukan money politic, black campaign, ketidak jujuran, penggunaan kekuasaan sebagai alat merebut kekuasaan, dan lain sebagainya dengan tujuan bagaimana dapat menduduki kursi empuk tersebut. Setelah mendapatkan kursi tersebut kebanyakan pejabat lupa pada rakyatnya, mereka lebih mementingkan dirinya sendiri dan kroninya.
Mengutip pendapat Alexis de Tocqueville yang mengibaratkan kehidupan demokratis laksana bangunan di atas pasir, artinya sangat rentan akan berbagai guncangan (Wolfgang Merkel, 2005).
Duet presiden Pemilu 2009 yang sekalipun mutlak meraih mandat rakyat pada Pemilu 2009 lalu tak lantas tunggang langgang leluasa mengatur pemerintahan. Selalu digoyang ombak, badai bahkan tsunami dari luar pemerintah, apakah oleh oposisi, atau pengamat kontra pemerintah terkait berbagai kebijakan yang dikeluarkan, yang tak jarang pula dinilai secara subjektif.
Anamoli demokrasi yang terjadi dewasa ini jika dibiarkan berlarut-larut akan menimbul dampak politik yang merisaukan. Dalam teori politik, jika demokrasi gagal di jalan dengan baik akan menimbulkan pembusukan politik dan anarkis. Untuk menjaga demokrasi dapat berjalan dengan baik untuk menata Indonesia ke depan perlu diperhatikan.
Pertama, sistem multi partai harus diefesiensikan menjadi dua partai yakni partai berkuasa dan partai oposisi. Kedua, partai politik, eksekutif dan penegak hukum sebagai salah satu instrumen penting demokrasi secara institusional perlu memperbaiki diri untuk tidak ‘memelihara’ kader-kadernya yang amoral. Institusi partai politik harus dipimpin oleh orang yang cerdas, intelektual dan ber-akhlakul karimah dan bertakwa ke Tuhan Yang Maha Esa.
Ketiga, mengubah sistem negara kesatuan ke sistem negara fedaralisme. Ini pernah diimpikan oleh Hatta, Amien Rais, Tabrani Rab dan tokoh-tokoh lainnya. Keempat, perlu ada revolusi dalam penataan good governance birokrasi yang sehat dan dinamis.
Seandainya Hatta masih hidup dan ia sukses mewujudkan Indonesia yang menganut sistem fedaralisme menurut impiannya, bagaimanakah kira-kira wajah Indonesia tercinta ini? Indonesia, di tangan dalam konsep Muhammad Hatta, tentunya akan menjadi pemerintahan sipil berkabinet efesien, berisi menteri yang profesional sebagaimana kabinet Hatta dahulu.
Kekuasaan tak akan memusat di Jakarta karena setiap daerah memiliki otonomi yang kuat dan mampu berdikari secara ekonomi sesuai dengan cita-cita federalisme Hatta. Di mana-mana tumbuh koperasi-koperasi industri rakyat yang kuat.
Seperti petani di Kanada, koperasi petani kita akan memiliki pabrik pupuk sendiri. Seperti di AS, koperasi petani kita akan memiliki industri minyak. Seperti di pedesaan-pedesaan Jepang, koperasi petani akan memiliki supermarket kecil. Singkatnya, namanya juga mimpi, akan terjadi jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme.
Koperasi menjadi semacam alat untuk mengendalikan pasar secara bersama. Tentunya Indonesia di umur yang 66 tahun menjadi bangsa yang tangguh tidak dapat dilecehkan oleh negara tetangga yang dulunya banyak belajar dengan kita.
Dalam akhir risalah demokrasi kita, Hatta mengutip kalimat penyair Jerman, Schiller: “Suatu abad besar telah lahir. Namun, ia menemukan generasi kerdil.” Itu adalah kalimat kritik Hatta terhadap para pemimpin partai politik di masa itu, yang dianggap gagal melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin bangsa.
Pemikiran Hatta ini perlu dicamkan di saat kita sekarang ini mengalami tsunami, multikrisis. Ibaratkan kapal, bangsa ini sedang berlayar di tenggah lautan yang dalam yang tiada bertepi, penuh sesak penumpang di luar kapasitas kapal, sebagian kecil penumpang berpesta-pora, mabuk dan berdansa, sebagian besar penumpang lapar, sakit dan merintih.
Kapal itu telah berusia 66 tahun, kapal sudah tua, sudah banyak yang bocor-bocor, mesinnya kadang mati, kadang hidup, bahan bakar sudah hampir habis, adakah nakhoda yang mampu menyelamatkan kapal tua ini?
Kami tak tau, apakah kami tenggelam dikanibali paus, hiu atau sesama kami atau mencapai mahligai dermaga impian? Dirgahayu RI ke-66, semoga dapat mengukir sejarah sebagai bangsa yang beradab, bermartabat, adil dan makmur, sejahtera lahir dan batin, adem dan tentram.***
Referensi : www. RiauPos.com, Tahun 2011

Link : http://www.riaupos.co/opini.php?act=full&id=132&kat=6

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: