Saidul Amin, Dosen Fakultas Ushuludin

Judul: Pluralisme Islami“ Menelusuri dan Mengaktualisasikan Konsep La Convivencia di atas Pentas Global”

Abstrak:

                Masyarakat majmuk atau plural society adalah dinamika kehidupan manusia yang selalu berbeda dari beragam aspek. Adakalahnya pluralitas itu dapat menjadi kekuatan namun tidak jarang menjadi ancaman dan bom waktu di masa akan datang.

Para cendekiawan baik Timur mapun Barat menyadari hal ini sehingga berupaya meresponi masalah pluralitas  dengan mengajukan konsep pluralisme modern dengan  berupaya menghapuskan primordialisme serta membidani idiologi baru yang dapat merangkum kemajmukan dari setiap agama dan idiologi.

Mustahil atau tidaknya ide ini biarlah waktu yang akan berbicara. Namun secara sunnatullah, manusia memang harus berbeda, namun bukan berarti perbedaan selalu bermakna perpecahan.

La Convivencia, pernah mampu menjawab permasalahan pluralitas di abad pertengahan, tanpa harus mengorbankan ajaran setiap agama. Konsep ini tetap menjadi prasasti  keharmonian antar agama dan bangsa dalam lipatan sejarah manusia. Inilah pluralisme islami itu.

Pluralisme :

Memahami perbedaan bukan  menyatukan kemajmukanPluralisme lahir dari kegelisahan akan terjadinya konflik di antara masyarakat yang berbedaagama, suku dan bangsa. Oleh sebab itu tabir-tabir primordialisme seperti ini harus dihapuskan dalam melakukan interaksi sosial.

Secara sederhana, pluralisme adalah konsep hidup atau paham yang mengakui adanya perbedaan atau kemajmukan dalam masyarakat (plural society). Di mana perbedaan etnik, agama dan lainnya itu dapat hidup berdampingan.

Al-Quran sangat menjunjung tinggi keberadaan masyarakat yang plural. Bahkan konsep hidup berdampingan untuk saling “ mengenal “ dalam arti kata yang lebih luas dinyatakan di dalam al-Quran, “ Sesungguhnya kami menciptakan kamu bersuku-suku dan berbangsa untuk saling kenal “

Di era modern, pluralisme mulai beranjak dari defenisi awalnya sebagai faham kemajmukan menjadi upaya untuk memadukan kemajmukan tersebut. Hal ini akan menjadi lebih  runyam bila telah menyentuh masalah teologi dan membidani lahirnya  idiologi baru yang  membenarkan semua keyakinan, bukan sekedar memahami keyakinan-keyakinan yang ada.

Hal ini dilatarbelakangi akan kegelisahan seperti disebutkan di atas, di mana keadaan yang plural dikhawatirkan akan meletus menjadi konflik berkepanjangan dalam masyarakat, baik antara budaya maupun agama. Untuk itu pluralisme bukan sekedar saling memahami dan berintegrasi. Namun lebih dari itu perlu ada satu konsep di dalam masyarakat bahkan dunia (world view) untuk mewujudkan  nilai-nilai universal dan diterima semua pihak.

Di Indonesia kegelisahan seperti ini dimulai oleh Nurchalis Majid (selanjutnya disebut dengan Cak Nur) dengan konsep kalimah sawa nya. Dia mencoba mengajak setiap pemeluk agama untuk kembali kepada prinsip dasar agama samawi yang diyakini adalah sama, sebagaimana dinyatakan oleh al-Quran “ Wahai para ahlulkitab marilah kembali kepada kalimat yang sama di antara kami dan kamu. Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan jangan kamu serikatkan Dia dengan apapun. Dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lainnya menjadi sembahan selain daripada Allah. Jika mereka enggan, katakanlah : Saksikan bahwa kami adalah orang yang berserah diri “

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: